Push, film terbaru dari Summit Entertaintment, yang belum lama ini sukses dengan Twilight. Setelah menghadirkan cerita romantis dibalut dengan tokoh vampir, kali ini saatnya orang-orang dengan kemampuan psikis tampil. Ceritanya sendiri mungkin akan lebih gabungan Jumper dan Wanted dengan kemampuan Heroes.

Salah satu adegan dalam Push
Dikisahkan Nick Gant (diperankan oleh Chris Evans) bukanlah manusia biasa. Nick memiliki kekuatan psiko kinetis (menggerakkan benda-benda dengan pikiran). Di sini sisi Jumper-nya keluar, Nick menggunakan kemampuan tersebut untuk kepentingan pribadinya. Saat ayahnya dibunuh dengan secara brutal, jalan hidupnya pun berubah drastis. Nick berjanji akan menuntut balas atas kematian ayahnya itu. Dia juga kemudian mengetahui fakta tentang beberapa orang lain yang memiliki kemampuan istimewa seperti dirinya Dia berusaha mengumpulkan orang-orang istimewa lainnya untuk menggulingkan Division, kedok agensi yang bertanggung jawab dengan eksperimen obat-obatan psikis selama beberapa dekade ini.

Chris Evans as Human Torch in Fantastic 4
Nick kemudian bersekongkol dengan Cassie Holmes (diperankan oleh Dakota Fanning), gadis cilik yang bisa melihat masa depan untuk mencari Kira (diperankan oleh Camilla Belle) mantan kekasih Nick yang telah lama hilang dan juga koper curian yang berpotensi membuat kehancuran bagi Division setelah gadis itu mendatanginya dan mengatakan melihat masa depan mereka. Dengan menggabungkan kekuatan, mereka mengkonfrontasi para assassin dan belajar tentang R16, senjata rahasia eksperimen Division yang dapat mempercepat pecahnya perang psikis.
Setelah mengetahuinya, tentu mereka tidak tinggal diam. Pihak Division pun demikian, mereka berusaha menggagalkan rencana Nick melalui Henry Carver (diperankan oleh Djimon Hounsou). Maka tak pelak lagi, terjadilah pertarungan sengit di antara orang-orang dengan kemampuan psikis ini.

Dakota Fanning
Tampaknya semenjak Heroes melejit selera Hollywood mulai lebih universal, Superhero tak lagi merupakan tokoh-tokoh dengan kostum aneh dan/atau diangkat dari komik atau novel. Para tokoh superhero kini sudah muali tampil dengan kostum seperti layaknya manusia biasa. Ceritanya pun tak mesti berasal dari adaptasi komik atau novel yang sudah ada terlebih dahulu. Akan tetapi tokoh-tokoh ini biasanya menjalankan tugas karena terpaksa, setelah mengalami kejadian tragis pada orang yang mereka sayangi, bukan karena kesadaran atau panggilan hidup mereka.
Hal ini diperparah dengan Heroes, meski bukan pelopor cerita genre ini, cerita-cerita serupa kemudian dianggap meniru Heroes. Seakan cerita-cerita semacam ini hanya trademark Heroes saja, dan selalu dibanding-bandingkan dengan serial tv tersebut. Yah, memang cara termudah untuk menjelaskan film ini adalah dengan mengatakan bahwa film ini “seperti” Heroes.

Heroes TV Series
Memang film-film superhero/sci-fi akhir-akhir ini memiliki garis besar yang hampir seragam, dimana tokoh utama memiliki kemampuan istimewa, terjadi kematian pada orang dekat tokoh utama, mulai terungkapnya jati diri/asal kemampuan sang superhero, muncul tokoh antagonis yang memiliki kemampuan yang tak kalah hebat dengan sang superhero, adanya organisasi beserta eksperimennya, dan tentu saja adanya duel tradisional diantara kedua belah pihak yang terjadi secara fantastis.
Semoga saja dibawah arahan Paul McGuigan film ini dapat menampilkan sesuatu yang fresh dan patut diacungi jempol. Sutradara ini sebelumnya juga telah mengarahkan film Lucky Number Slevin. Selain itu, kehadiran si cantik Camilla Belle dan Dakota Fanning juga diharapkan dapat menjadi magnet lain dari film ini. Kita tunggu saja kehadiran film ini di Indonesia dan semoga tidak mengecewakan.